SURABAYA – Puasa sudah berjalan setengah jalan, tapi pertanyaannya: apakah takwa sudah benar-benar mampir di hati kita? Jangan-jangan kita baru sekadar dapat lapar dan dahaganya saja. Saatnya re-check niat lewat refleksi mendalam tentang hakikat puasa!
Bukan sekadar menahan haus dari subuh sampai magrib, puasa adalah momentum besar untuk “reparasi” diri. Widyaiswara BDK Surabaya, Agus Akhmadi, membedah tuntas bagaimana puasa seharusnya mampu membangun pribadi yang takwa sekaligus masyarakat yang bahagia pada Kultum hari ini (11/03/2026).
Pesan utamanya jelas: Kita mendapat amanah mulia melalui firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).
Ayat ini menjadi pengingat bagi kita bahwa takwa adalah sebaik-baiknya bekal untuk mengarungi perjalanan di dunia maupun akhirat. Nah, pertanyaannya, di pertengahan Ramadan ini, sudahkah indikator takwa itu mulai muncul di radar diri kita?
Value-nya bukan cuma di atas sajadah! Merujuk Al-Baqarah 177, takwa itu paket lengkap. Indikatornya? Kita jadi makin bijak dengan keimanan yang makin kuat. Ada dimensi spiritual yang bikin kita merasa makin “nempel” dan dekat dengan Allah, sekaligus ada dimensi ibadah yang bikin pengabdian kita sebagai hamba jadi lebih terasa maknanya.
Tapi tunggu dulu, kesalehan itu nggak berhenti di diri sendiri saja. Diri kita belum dianggap “selesai” kalau belum bermanfaat buat orang lain. Lewat puasa, kita dilatih dan ditempa untuk: Menahan amarah, Enggak gampang “meledak” kalau ada tantangan; Memaafkan, Melapangkan dada buat kekhilafan orang lain.
Kalau urusan hati ini sudah beres, otomatis bangunan interaksi sosial kita ke masyarakat bakal makin keren dan adem. Jadi, kalau pribadi-pribadinya sudah takwa, masyarakatnya pasti bahagia!
Yuk, di sisa Ramadan ini, kita pertajam lagi kontrol diri kita. Jangan kasih kendor, jadikan puasa kali ini sebagai motor penggerak untuk jadi pribadi yang lebih bijak dan bermanfaat bagi sesama!
Penulis: Dewi