


Mojokerto — Kesadaran menjaga lingkungan tidak bisa lagi berhenti pada diskusi atau konsep semata. Hal itu ditegaskan oleh Muttakin saat menutup kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Ekoteologi yang diikuti para penghulu dan penyuluh agama di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Mojokerto, Rabu (11/3/2026).
Kegiatan bimtek tersebut diselenggarakan oleh Balai Diklat Keagamaan Surabaya sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas aparatur Kementerian Agama dalam mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Dalam sambutannya, Muttakin menekankan bahwa memelihara alam merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Ia mengingatkan bahwa ajaran agama sesungguhnya telah lama menempatkan manusia sebagai penjaga keseimbangan alam.
“Memelihara alam adalah sebuah keniscayaan. Agama mengajarkan kita untuk menjaga keseimbangan, bukan justru merusaknya,” tegasnya.
Menurutnya, selama ini masih ada pemahaman yang keliru terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang dianggap memberi legitimasi bagi manusia untuk mengeksploitasi alam. Padahal, kata Muttakin, makna yang sesungguhnya adalah pengelolaan alam secara bertanggung jawab, bukan eksploitasi yang merusak.
Ia juga menyinggung pandangan pemikir Islam seperti Seyyed Hossein Nasr yang mengkritik cara pandang modern yang terlalu menyanjung kemajuan teknologi tanpa mempertimbangkan dampak ekologisnya. Dalam perspektif tersebut, ilmu pengetahuan tidak pernah benar-benar netral, melainkan harus berpihak pada kebenaran, kemanusiaan, dan keadilan.
“Ilmu pengetahuan itu tidak pernah sepenuhnya netral. Ia harus berpihak pada kebenaran, pada kemanusiaan, dan pada keadilan, termasuk keadilan terhadap alam,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Muttakin menilai nilai-nilai menjaga keseimbangan alam sebenarnya telah lama hidup dalam budaya masyarakat Indonesia. Bahkan sebelum masuknya agama-agama besar, tradisi lokal telah mengajarkan penghormatan terhadap alam sebagai bagian dari kehidupan.
Karena itu, menurutnya, gagasan ekoteologi yang kini digaungkan tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang baru apalagi dipandang negatif. Justru konsep tersebut menjadi pengingat bahwa tanggung jawab menjaga lingkungan merupakan bagian dari praktik keagamaan.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mendorong agar hasil bimtek tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Para peserta yang terdiri dari penghulu dan penyuluh diharapkan mampu menjadi penggerak kesadaran lingkungan di tengah masyarakat.
Muttakin bahkan mencontohkan bagaimana negara-negara maju sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan yang berdampak pada lingkungan, termasuk ketika harus menebang satu pohon untuk kepentingan pembangunan.
“Di beberapa negara, untuk menebang satu pohon saja kajiannya bisa sangat panjang. Mereka berusaha agar pembangunan tetap berjalan, tetapi alam tetap terjaga,” ujarnya.
Sebagai bentuk implementasi nyata, ia mendorong berbagai langkah sederhana namun berdampak, seperti gerakan penanaman pohon serta penguatan program madrasah ramah lingkungan. Upaya tersebut dinilai dapat menjadi kontribusi nyata Kementerian Agama dalam menjaga keseimbangan alam.
Di akhir sambutannya, Muttakin berharap kegiatan bimtek ini menjadi awal dari gerakan nyata yang berkelanjutan.
“Kegiatan ini jangan berhenti setelah pelatihan selesai. Harus ada langkah nyata di lapangan. Kita semua punya tanggung jawab untuk menjaga alam agar tetap seimbang,” pungkasnya.
Bimbingan Teknis Ekoteologi ini diikuti oleh para penghulu dan penyuluh agama di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Mojokerto sebagai upaya memperkuat pemahaman keagamaan yang selaras dengan upaya pelestarian lingkungan. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Balai Diklat Keagamaan Surabaya dalam mendorong integrasi nilai-nilai keagamaan dengan kesadaran ekologis di tengah masyarakat.

Penulis: Mutia