Surabaya — Peserta Pelatihan Dasar (Latsar) CPNS Golongan III Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten/Kota se-Jawa Timur mengikuti apel pagi perdana di Lapangan Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya pada Senin (20/4/26). Kegiatan ini menandai dimulainya tahap klasikal dalam rangkaian Latsar hasil kerja sama antara KPU Provinsi Jawa Timur dan BDK Surabaya.
Apel perdana ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum penting untuk menegaskan komitmen kedisiplinan dan pembentukan karakter peserta sebagai calon aparatur sipil negara (ASN). Bertindak sebagai pembina apel, Danang Eka Sandi menegaskan bahwa tahap klasikal merupakan fase krusial sekaligus pamungkas dalam keseluruhan proses Latsar.
“Tahap ini sangat krusial karena di sinilah kami dapat mengamati secara langsung apakah seluruh proses sebelumnya telah memberikan perubahan positif,” ujarnya.
Sebelumnya, para peserta telah melalui berbagai tahapan pembelajaran, mulai dari Massive Open Online Course (MOOC), pembelajaran jarak jauh melalui Learning Management System (LMS), hingga aktualisasi di unit kerja masing-masing. Melalui tahap klasikal, penyelenggara dapat melihat secara nyata perkembangan kompetensi maupun sikap perilaku peserta.
Kedisiplinan menjadi sorotan utama sejak hari pertama. Danang menegaskan bahwa ketepatan waktu dan kerapian merupakan indikator awal kesiapan peserta. Ia mengingatkan bahwa pukul 06.45 WIB adalah waktu seluruh peserta sudah berada di barisan, bukan masih dalam proses persiapan.
“Kedisiplinan harus dimulai dari hal sederhana, termasuk penampilan. Dari ujung rambut hingga ujung kaki harus sesuai ketentuan,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa kepatuhan terhadap aturan bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari pembentukan karakter ASN yang profesional. Hal ini tercermin dari ketentuan penggunaan atribut, mulai dari kemeja putih polos, dasi hitam, lencana Korpri, papan nama, hingga sepatu pantofel hitam, yang seluruhnya menjadi bagian dari penilaian kedisiplinan.
Dalam amanatnya, Danang turut mengingatkan bahwa setiap pelanggaran akan berdampak pada pengurangan poin kedisiplinan. Ia menyampaikan bahwa sanksi akan diberlakukan secara konsisten, bahkan berulang apabila pelanggaran tidak segera diperbaiki, sebagai bentuk penegakan aturan dan pembelajaran tanggung jawab.
Lebih jauh, apel pagi dan latihan baris-berbaris dimaknai sebagai bagian dari pembentukan kesiapsiagaan bela negara. Dalam situasi global yang dinamis, ASN dinilai memiliki peran strategis sebagai salah satu pilar dalam menjaga kedaulatan bangsa. Oleh karena itu, karakter disiplin, tangguh, dan siap siaga menjadi hal yang harus dibangun sejak masa pelatihan.
Pelaksanaan apel secara bergilir juga menjadi sarana pembelajaran kepemimpinan bagi seluruh peserta. Bahkan, pada hari tertentu, peserta putri diberi kepercayaan penuh sebagai petugas apel, sebagai wujud kesetaraan peran dalam lingkungan ASN tanpa diskriminasi.
Usai apel, peserta dijadwalkan mengikuti pengarahan di aula lantai 2 terkait overview kegiatan klasikal sebelum kembali ke kelas masing-masing sesuai pembagian angkatan.
Menutup amanatnya, Danang menyampaikan harapan agar seluruh peserta mampu menjalani proses pelatihan dengan penuh tanggung jawab. “Selamat mengikuti tahap klasikal ini dengan sungguh-sungguh. Jaga kesehatan, jaga kedisiplinan, dan selesaikan pelatihan ini dengan hasil terbaik,” pesannya.
Apel pagi perdana ini menjadi penanda bahwa perjalanan menjadi ASN tidak hanya diukur dari kompetensi, tetapi juga dari kedisiplinan dan kesiapan mental untuk mengabdi kepada negara.
Penulis : Mutia