SURABAYA – Rasa cemas, stres, dan hilangnya ketenangan batin seringkali dianggap sebagai dampak murni dari tekanan eksternal atau beban kerja yang tinggi. Namun, dalam tausiyah kultum yang berlangsung pada Senin (2/3), Dr. H. Moh Shodiq, M.Pd.I mengungkapkan sudut pandang mendalam bahwa akar kegelisahan tersebut seringkali bersumber dari penyakit internal yang menghambat performa jiwa untuk mencapai derajat takwa yang hakiki.
Dalam paparannya, Dr. Moh Shodiq menekankan bahwa hambatan utama seseorang menuju takwa adalah belenggu diri atau materialisme. Menurut beliau, ketika hati terlalu terpaku pada pencapaian fisik dan orientasi duniawi semata, jiwa akan kehilangan sensitivitas spiritualnya dan terjebak dalam berbagai karakter negatif yang merusak ketenangan batin.
Beliau merinci bahwa karakter-karakter yang menjadi polusi bagi jiwa di antaranya adalah sifat egosentrisme seperti ambisi yang berlebihan, egois, serta kecenderungan hanya mengutamakan kepentingan individu. Selain itu, ketidakstabilan emosi seperti rasa cemas yang kronis, mudah mengeluh, marah, sedih yang berlarut, hingga kondisi panik dan stres juga menjadi penghambat nyata. Beliau menambahkan bahwa hambatan sosial dan mental seperti memandang rendah orang lain, sombong, iri, dengki, hingga kebiasaan berpikir negatif serta terjebak dalam angan-angan kosong dan melamun turut memperkeruh kondisi spiritual manusia.
Dr. Moh Shodiq menegaskan bahwa karakter-karakter tersebut merupakan rem bagi kemajuan spiritual. Beliau mempertanyakan bagaimana mungkin ketenangan dapat hadir jika hati seseorang masih terbelenggu oleh rasa takut kepada makhluk, putus asa, dan rasa iri terhadap nikmat yang dimiliki orang lain. Oleh karena itu, beliau mengajak jamaah untuk kembali merefleksikan esensi takwa melalui tuntunan wahyu sebagai penawar atas segala karakter penghambat tersebut.
Merujuk pada Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 13, beliau mengingatkan bahwa standar kemuliaan manusia di sisi Allah bukanlah status sosial atau materi, melainkan kualitas ketakwaannya. Lebih jauh, beliau membedah janji-janji konkret Allah bagi mereka yang mampu memerdekakan jiwanya dari karakter negatif sebagaimana termaktub dalam Surah At-Thalaq ayat 2 hingga 5. Dalam ayat-ayat tersebut, takwa diposisikan sebagai kunci pembuka jalan keluar atas setiap persoalan hidup, pendatang rezeki dari arah yang tidak terduga, pemberi kemudahan dalam setiap urusan, hingga penghapus kesalahan dan pelipat ganda pahala.
Di akhir tausiyahnya, Dr. Moh Shodiq mengutip Surah Al-A’raf ayat 96 sebagai pengingat akan pentingnya kesalehan kolektif. Beliau menegaskan bahwa jika penduduk suatu negeri, termasuk para aparatur di lingkungan kerja, mampu beriman dan bertakwa dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan membukakan pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi. Beliau berharap melalui momentum ini, setiap individu dapat melakukan introspeksi diri untuk mengikis egoisme dan penyakit hati demi mencapai performa kerja yang lebih produktif dan ketenangan batin yang berkelanjutan.
Penulis: Dewi