
Surabaya – Balai Diklat Keagamaan Surabaya menggelar community of practice (CoP) materi Bimbingan Teknis (Bimtek) Ekoteologi pada Senin (2/3/2026). Kegiatan ini diikuti oleh para widyaiswara BDK Surabaya sebagai langkah strategis untuk menyamakan persepsi sekaligus mematangkan alur materi yang akan digunakan dalam pelaksanaan bimtek ekoteologi mendatang.
Forum yang berlangsung hangat dan partisipatif ini menghadirkan Khobibah dan Sholehuddin sebagai pemateri sekaligus pemandu jalannya diskusi penyamaan persepsi. Keduanya memfasilitasi dialog terbuka mengenai substansi materi, pendekatan pembelajaran, hingga strategi implementasi di lapangan.
Khobibah menegaskan bahwa ekoteologi tidak boleh berhenti pada tataran konsep. “Ekoteologi bukan sekadar wacana akademik atau teori yang dibahas di ruang kelas. Ia harus hadir dalam perilaku sehari-hari—bagaimana kita memperlakukan lingkungan sebagai bagian dari amanah keimanan,” ujarnya di hadapan peserta.
Senada dengan itu, Sholehuddin menambahkan bahwa penyamaan persepsi menjadi kunci agar materi yang disampaikan kepada peserta bimtek nantinya tidak bias dan tetap kontekstual. Ia menyampaikan bahwa isu-isu lingkungan hari ini semakin kompleks dan membutuhkan pendekatan yang komprehensif. Menurutnya, widyaiswara harus mampu mengaitkan nilai-nilai teologis dengan persoalan riil seperti krisis iklim, pengelolaan sampah, kerusakan ekosistem, hingga gaya hidup konsumtif.
Dalam forum tersebut, para widyaiswara mendiskusikan berbagai isu panas yang tengah menjadi perhatian publik, mulai dari banjir akibat alih fungsi lahan, pencemaran sungai, hingga fenomena perubahan iklim. Diskusi tidak hanya berhenti pada identifikasi masalah, tetapi juga menekankan pentingnya praktik nyata di kehidupan sehari-hari, seperti pengurangan sampah plastik, efisiensi penggunaan energi, serta penanaman nilai kepedulian lingkungan dalam keluarga dan satuan pendidikan.
“Kalau kita berbicara ekoteologi, maka yang dibangun adalah kesadaran spiritual yang melahirkan tindakan ekologis. Jadi, perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri,” ungkap salah satu widyaiswara dalam sesi diskusi.
Secara tidak langsung, forum ini juga menegaskan komitmen BDK Surabaya untuk menjadikan ekoteologi sebagai materi yang aplikatif dan relevan dengan tantangan zaman. Penyamaan persepsi ini diharapkan mampu melahirkan desain pembelajaran yang tidak hanya informatif, tetapi juga transformatif.
Kegiatan berlangsung lancar dengan suasana yang dinamis. Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya sesi tanya jawab dan pertukaran pengalaman praktik baik. Dengan bekal kesepahaman yang telah dirumuskan bersama, BDK Surabaya optimistis pelaksanaan Bimtek Ekoteologi ke depan akan lebih terarah, kontekstual, dan berdampak nyata bagi penguatan kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai keagamaan.
Penulis: Mutia