
Jombang — Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Ekoteologi di wilayah kerja Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jombang. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, 10–11 Maret 2026, bertempat di Aula Al-Muhajirin Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jombang.
Bimtek ini merupakan bagian dari program pengembangan kompetensi sumber daya manusia yang dilaksanakan melalui skema Pelatihan di Wilayah Kerja (PDWK) oleh Balai Diklat Keagamaan Surabaya.
Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh Kepala Subbagian Tata Usaha Balai Diklat Keagamaan Surabaya, Anton Sasono, S.E., M.Ab. Pembukaan juga dihadiri oleh Kepala Subbagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jombang, Dr. H. Arif Hidayatulloh, M.Pd.I.
Bimtek Ekoteologi ini diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari unsur Penghulu dan Penyuluh Agama Islam pada Kantor Urusan Agama (KUA) di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jombang. Para peserta mengikuti kegiatan ini berdasarkan surat tugas dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jombang.
Dalam sambutannya, Anton Sasono menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program prioritas Kementerian Agama dalam rangka meningkatkan kompetensi aparatur sekaligus memperkuat peran Kementerian Agama dalam merespons isu-isu lingkungan.
Ia menegaskan bahwa persoalan lingkungan saat ini menjadi perhatian serius yang memerlukan keterlibatan semua pihak, termasuk aparatur Kementerian Agama.
“Krisis iklim itu nyata. Berbagai bencana alam yang terjadi belakangan ini menjadi pengingat bagi kita bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab para ilmuwan atau ahli lingkungan, tetapi juga merupakan tanggung jawab iman kita sebagai manusia,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan ekoteologi hadir sebagai upaya menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan kesadaran menjaga kelestarian lingkungan.
“Ekoteologi menjadi jembatan antara teks-teks suci dengan praktik pelestarian lingkungan. Selama ini kita sering menyampaikan ayat-ayat tentang menjaga alam, tetapi yang tidak kalah penting adalah bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diwujudkan dalam aksi nyata di tengah masyarakat,” jelasnya.
Anton juga menjelaskan bahwa peserta Bimtek berasal dari kalangan penyuluh agama dan penghulu karena keduanya memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran masyarakat.
Penyuluh agama memiliki kemampuan dalam membangun narasi dan pesan keagamaan yang dapat memengaruhi masyarakat luas, sedangkan penghulu memiliki peran penting dalam membina ketahanan dan fondasi keluarga, yang merupakan unit dasar dalam kehidupan sosial masyarakat.
“Penyuluh adalah narator kesadaran masyarakat. Melalui ceramah dan penyuluhan, mereka dapat menyampaikan pesan-pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan. Sementara penghulu memiliki peran penting dalam membangun keluarga yang kuat sebagai fondasi masyarakat,” ungkapnya.
Selama pelaksanaan kegiatan, peserta akan mengikuti pembelajaran dengan total 16 jam pelajaran (JP) yang mencakup berbagai materi, antara lain konsep dasar ekoteologi, road map dan milestone pengembangan ekoteologi, urgensi moral lingkungan, etika ekoteologi beserta ruang lingkup dan implementasinya dalam kehidupan sosial keagamaan. Selain itu, peserta juga akan mendapatkan materi mengenai sistem pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan Kementerian Agama.
Materi dalam kegiatan ini disampaikan oleh narasumber dari Balai Diklat Keagamaan Surabaya yang memiliki kompetensi di bidangnya. Proses pembelajaran dirancang secara interaktif agar peserta tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai ekoteologi dalam praktik kehidupan dan pelayanan keagamaan di masyarakat.
Anton berharap kegiatan ini tidak berhenti pada tataran diskusi semata, tetapi mampu melahirkan berbagai aksi nyata pelestarian lingkungan di lingkungan kerja maupun di tengah masyarakat.
Ia menegaskan bahwa terdapat tiga hal penting yang diharapkan menjadi hasil dari kegiatan ini, yaitu relevansi pesan ekoteologi yang mudah dipahami masyarakat, munculnya aksi nyata pelestarian lingkungan, serta terbangunnya kolaborasi dengan berbagai pihak atau instansi terkait.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menghasilkan diskusi dan narasi saja, tetapi juga melahirkan program nyata yang dapat diimplementasikan di unit kerja masing-masing serta dikolaborasikan dengan berbagai pihak,” tegasnya.
Melalui Bimtek Ekoteologi ini, diharapkan para peserta dapat menginternalisasikan nilai moral dan etika lingkungan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi pelayanan keagamaan, sekaligus menjadi agen perubahan dalam membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan dan kemanusiaan.
Penulis: Alia