


Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya menggelar apel pagi terakhir bagi peserta Pelatihan Dasar (Latsar) CPNS Kementerian Agama RI gelombang XIII pada Jumat (12/12/25). Apel yang menandai berakhirnya rangkaian pembinaan kedisiplinan ini diikuti oleh CPNS Golongan III Angkatan L dan LI serta CPNS Golongan II Angkatan I.
Dalam apel tersebut, Wadi Rahmoko, panitia Latsar CPNS Kemenag RI, bertindak sebagai pembina apel sekaligus memberikan penguatan karakter bagi seluruh peserta. Ia menekankan pentingnya nilai integritas dan profesionalisme sebagai fondasi utama ASN masa depan.
Dalam amanatnya, Wadi mengulas kembali Panca Prasetya KORPRI, khususnya butir yang menegaskan komitmen terhadap kejujuran, keadilan, disiplin, serta profesionalisme. “Salah satu butir Panca Prasetya KORPRI adalah menegakkan kejujuran, keadilan, dan disiplin serta meningkatkan kesejahteraan dan profesionalisme. Jangan meminta kesejahteraan kepada negara kalau Anda tidak profesional dalam bekerja,” ujarnya menegaskan.
Wadi juga menyoroti bahwa profesionalisme bukan hanya tuntutan organisasi, melainkan kewajiban moral setiap ASN. Ia menjelaskan bahwa negara telah memberikan fasilitas, kesempatan belajar, serta ruang untuk berkembang. Karena itu, para CPNS harus menunjukkan balasan yang setimpal berupa kinerja berkualitas, kepatuhan terhadap aturan, dan konsistensi menjalankan tugas publik.
Selain itu, Wadi mengingatkan kembali Lima Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama, yaitu Integritas, Profesionalitas, Inovasi, Tanggung Jawab, dan Keteladanan. Menurutnya, nilai-nilai tersebut bukan sekadar slogan, tetapi pedoman operasional yang harus diinternalisasi dan diwujudkan dalam setiap tindakan.
“Mari kita tanamkan, pahami, cermati, dan laksanakan nilai-nilai ini. Jangan hanya dihafalkan, tetapi jadikan karakter,” kata Wadi dalam arahannya. Ia menekankan bahwa integritas merupakan akar perilaku ASN, profesionalitas adalah standar kinerja, inovasi adalah wujud kontribusi, tanggung jawab adalah sikap dewasa, dan keteladanan adalah ciri ASN yang layak dipercaya.
Secara tidak langsung, Wadi juga menegaskan bahwa keberhasilan Latsar bukan hanya diukur dari kelulusan administrasi, tetapi dari seberapa jauh peserta mampu membawa perubahan positif di satuan kerja masing-masing. Ia berharap seluruh peserta dapat kembali ke unit tugas dengan semangat baru sebagai pelayan publik yang berintegritas dan adaptif terhadap tantangan zaman.
Apel pagi terakhir ini menggugah para peserta Latsar sebelum kembali menjalankan tugas di kementerian dan satuan kerja daerah. Mereka diharapkan mampu menerapkan seluruh bekal pengetahuan, sikap, dan nilai yang diperoleh selama pelatihan, serta menjadi ASN Kemenag yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Publish: Mutia