
Surabaya – Suasana Pelatihan Dasar (Latsar) CPNS Kementerian Agama angkatan XLVII hingga XLIX di Balai Diklat Keagamaan Surabaya pada Rabu (10/12/25) menjadi berbeda dari biasanya. Hari itu, para peserta mendapat kunjungan istimewa dari Kepala Balai Litbang Agama Jakarta, Irhason, yang hadir secara langsung untuk membawakan materi bertajuk Pembinaan Sikap dan Perilaku ASN.
Dalam paparannya, Irhason menegaskan bahwa ASN masa kini tidak cukup hanya menguasai teknis birokrasi, melainkan juga harus kuat pada karakter. “ASN itu bukan sekadar bekerja, tetapi mengabdi. Integritas adalah napasnya, dan pelayanan publik adalah jiwanya,” ujarnya di hadapan peserta.
Ia juga menambahkan bahwa arah pembinaan ASN telah memiliki dasar hukum yang sangat jelas. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang ASN, PP 94 Tahun 2021, Peraturan BKN No. 6 Tahun 2022, hingga SE Menpan RB No. 20 Tahun 2021, seluruh ASN wajib menampilkan profesionalisme, akuntabilitas, serta memegang teguh nilai dasar BerAKHLAK.
Menurut Irhason, nilai tersebut bukan hanya slogan. Ia menekankan bahwa “Berorientasi pelayanan, akuntabel, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif adalah standar minimal. Bukan bonus. Bukan pilihan.”
Sementara itu, peserta juga menerima penjelasan mengenai perilaku wajib dan larangan yang harus dijunjung setiap ASN. Dalam penyampaian tidak langsungnya, Irhason menegaskan pentingnya menjauhi politik praktis, menjaga persatuan, serta menahan diri dari segala bentuk ujaran kebencian dan penyalahgunaan media sosial. Ia menekankan bahwa era digital menuntut ASN untuk cermat dalam setiap tindakan yang berpotensi mempengaruhi citra negara.
Materi yang disampaikan juga membahas ancaman serius jika ASN terlibat pelanggaran disiplin, termasuk tindakan asusila, penyalahgunaan narkoba, perjudian, hingga penyalahgunaan kewenangan. Irhason menyatakan bahwa pelanggaran terhadap integritas tidak hanya merusak kredibilitas pegawai, tetapi sekaligus merusak marwah lembaga negara.
Di akhir sesi, Irhason menutup dengan pesan kuat bahwa budaya kerja ASN hanya bisa terbangun apabila dimulai dari keteladanan. “Pemimpin itu baris terdepan. Jika pimpinan bersih, sistemnya ikut bersih. Jika pimpinan adil, pelayanan juga akan adil,” tuturnya.
Kunjungan ini menjadi momentum penting bagi peserta Latsar CPNS. Mereka tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga dorongan moral untuk memahami betapa strategisnya peran ASN di tengah tuntutan publik yang semakin tinggi. Melalui pembinaan ini, diharapkan terbangun aparatur negara yang bukan hanya profesional, tetapi juga memiliki karakter kuat, disiplin, dan berintegritas.
Dengan hadirnya tokoh pusat seperti Irhason, Latsar CPNS Kemenag kali ini mempertegas komitmen pemerintah untuk melahirkan ASN muda yang siap menjaga marwah bangsa dan menghormati nilai-nilai dasar negara dalam setiap langkah pelayanannya.
Publish: Mutia