
Surabaya — Ramadan tidak sekadar hadir sebagai penanda waktu ibadah, tetapi juga sebagai ruang perenungan bagi setiap insan beriman. Di tengah dinamika aktivitas kelembagaan, Balai Diklat Keagamaan Surabaya menghadirkan kultum Ramadan yang mengajak jamaah menepi sejenak, menyelami makna terdalam bulan suci yang sarat nilai spiritual dan kemanusiaan.
Kegiatan kultum Ramadan yang digelar pada Kamis (26/2/26) itu disampaikan oleh Darmani, seorang widyaiswara, yang menyampaikan materi bertajuk “Makna Huruf dalam Kata Ramadan”. Melalui pendekatan reflektif, ia menguraikan makna Ramadan dari sudut pandang simbolik huruf-huruf Arab yang menyusunnya.
Dalam ceramahnya, Darmani menegaskan bahwa kata Ramadan bukan sekadar nama bulan, melainkan mengandung pesan spiritual yang mendalam bagi umat Islam. “Ada lima huruf dalam kata Ramadan dalam bahasa Arab, dan masing-masing memiliki makna yang menjadi pedoman hidup,” ujarnya.
Ia menjelaskan, huruf pertama adalah ra’ yang bermakna ridho. Menurutnya, seluruh rangkaian ibadah di bulan Ramadan—terutama puasa—harus dilandasi keikhlasan untuk meraih ridho Allah SWT. “Ketika beribadah kepada Allah, niatnya harus lurus. Bukan ingin dipuji manusia, tetapi semata-mata mencari ridho Allah,” kata Darmani.
Huruf berikutnya, mim, dimaknai sebagai mahabbah atau cinta. Darmani menyampaikan bahwa Ramadan adalah momentum terbaik untuk menumbuhkan cinta kepada Allah. Ia menekankan bahwa hubungan seorang hamba dengan Tuhannya bersifat timbal balik. “Jika kita mendekatkan diri kepada Allah, Allah akan semakin dekat kepada kita. Jika kita mencintai Allah, maka Allah akan mencintai kita jauh lebih besar,” tuturnya.
Selanjutnya, huruf dhad diartikan sebagai dhaman atau jaminan. Darmani menyebut, Allah SWT menjanjikan ampunan bagi hamba-Nya yang menjalankan puasa dengan sungguh-sungguh dan memperbanyak amal kebaikan. Ia menegaskan bahwa sedekah, ibadah, dan membantu sesama merupakan bagian dari ikhtiar menuju ampunan Allah.
Secara tidak langsung, ia mengingatkan bahwa puasa bukan hanya ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan moral untuk memperbaiki sikap, lisan, dan perbuatan. “Ramadan seharusnya membentuk pribadi yang lebih peduli dan berakhlak,” ujarnya.
Darmani kemudian menutup ceramahnya dengan makna nur atau cahaya. Ia menggambarkan Ramadan sebagai bulan yang dipenuhi cahaya keberkahan, ampunan, dan rahmat Allah SWT. Menurutnya, pada bulan inilah pahala amal saleh dilipatgandakan, dan pintu kebaikan dibuka selebar-lebarnya.
Kultum Ramadan tersebut disambut dengan antusias oleh jamaah yang hadir. Pesan-pesan yang disampaikan dinilai mampu menggugah kesadaran spiritual dan mengajak refleksi diri, tidak hanya selama Ramadan, tetapi juga dalam kehidupan setelahnya.
Melalui kegiatan ini, Balai Diklat Keagamaan Surabaya kembali menegaskan perannya sebagai ruang pembinaan spiritual dan moral. Ramadan pun dimaknai bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum transformasi—dari kebiasaan menuju kesadaran, dari ibadah lahir menuju kedalaman makna.
Penulis: Mutia