
SURABAYA – Banyak lembaga pendidikan yang terjebak dalam pola “pemadam kebakaran”, yakni hanya sibuk beraksi saat terjadi krisis keuangan. Padahal, kemandirian madrasah seharusnya dibangun jauh sebelum badai datang. Hal inilah yang menjadi sorotan utama dalam webinar yang diselenggarakan oleh Korwil BDK Surabaya pada Kamis (26/02) melalui platform Zoom.
Hadir sebagai narasumber, Abdul Haris, Widyaiswara BDK Surabaya, membedah tuntas tema “Menyusun Strategi dan Roadmap Keuangan Madrasah”. Beliau menekankan bahwa kemajuan sebuah madrasah tidak melulu soal seberapa besar dana yang dimiliki, melainkan seberapa tepat manajemen yang diterapkan.
Sejak awal pemaparan, Abdul Haris langsung menggugah pola pikir peserta dengan sebuah pernyataan reflektif. Selama ini, kebutuhan madrasah kerap dijawab dengan satu kalimat sederhana: “butuh dana yang banyak.” Seolah-olah tanpa anggaran besar, madrasah mustahil berkembang, unggul, dan maju. Menurutnya, paradigma tersebut perlu segera diubah.
“Untuk mencukupi kebutuhan madrasah, tidak selalu memerlukan uang yang banyak. Yang dibutuhkan adalah cara hidup yang tepat. Dan cara hidup yang tepat itu adalah dengan manajemen,” tegasnya. Ia menjelaskan bahwa lembaga pendidikan yang mengelola sistemnya dengan ilmu manajemen saja belum tentu langsung sukses, apalagi jika tidak menggunakan manajemen sama sekali. Artinya, keberhasilan ditentukan oleh cara mengelola, bukan semata-mata besar kecilnya dana.
Mentalitas: Mengelola Lebih Penting daripada Mencari
Dalam sesi diskusi, Abdul Haris mengajak peserta merenungkan satu pertanyaan penting: mana yang lebih urgen, mencari uang atau mengelola uang? Ia menilai persoalan tersebut sangat berkaitan dengan mentalitas kepemimpinan. Banyak lembaga memiliki anggaran besar hingga miliaran rupiah per tahun, namun tetap merasa kekurangan karena tidak dikelola dengan mentalitas yang tepat. Sebaliknya, lembaga dengan dana terbatas mampu berkembang karena dikelola secara bijak, penuh rasa syukur, dan terarah.
“Jika ada selisih atau keuntungan, lalu dikelola dengan mentalitas yang baik, maka akan disyukuri dan menjadi berkah. Semua kembali pada faktor mentalitas,” jelasnya. Dari sinilah ia menegaskan bahwa mengelola keuangan dengan baik jauh lebih menentukan dibanding sekadar mencari tambahan dana.
Strategi Keuangan sebagai Fondasi Keberlanjutan
Webinar ini menekankan bahwa strategi dan roadmap keuangan bukan sekadar dokumen formalitas, melainkan instrumen pendukung visi pedagogis. Strategi keuangan yang baik dipastikan mampu menjamin keberlanjutan operasional (sustainability), menyelaraskan visi pendidikan dengan alokasi anggaran, hingga mewujudkan transparansi dan akuntabilitas kepada seluruh stakeholder. Tanpa pengelolaan strategis, inovasi akan berhenti dan lembaga hanya akan berjalan di tempat.
Dalam paparannya, Abdul Haris juga mengacu pada Permendikbudristek Nomor 18 Tahun 2023 tentang Standar Pembiayaan. Ia menjelaskan pemisahan antara biaya investasi dan biaya operasional, serta mendorong madrasah untuk kreatif dalam menggali sumber pendanaan alternatif yang sah di luar bantuan pemerintah. Hal ini menjadi krusial mengingat realitas di lapangan di mana guru kerap merangkap sebagai bendahara tanpa latar belakang akuntansi, yang berpotensi menimbulkan kesalahan administratif.
Menuju Kemandirian Madrasah
Sebagai arah strategis, Abdul Haris memaparkan pentingnya membangun tahapan roadmap secara bertahap, mulai dari kondisi defisit menuju keseimbangan anggaran, hingga mencapai surplus, investasi, dan akhirnya menjadi lembaga yang mandiri. Ia juga memperkenalkan konsep endowment atau dana abadi sebagai solusi jangka panjang agar madrasah memiliki fondasi pendanaan internal yang kuat.
Menurutnya, apabila madrasah telah memiliki fondasi keuangan yang kokoh dengan peta jalan yang jelas, kepercayaan masyarakat akan tumbuh secara alami. Pada tahap tersebut, masyarakat dengan sendirinya akan memilih dan mempercayakan pendidikan anak-anak mereka kepada madrasah tanpa perlu promosi besar-besaran.
Webinar ini menjadi wujud komitmen Korwil BDK Surabaya dalam memperkuat kapasitas tata kelola madrasah. Melalui strategi yang matang, diharapkan madrasah tidak lagi sekadar bertahan menghadapi tantangan, tetapi mampu tumbuh mandiri di tengah dinamika dunia pendidikan yang terus berkembang.
Penulis: Dewi