Surabaya – Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya kembali menggelar apel pagi rutin pada Senin, 6 April 2026. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan dimanfaatkan sebagai momentum penguatan kapasitas sumber daya manusia aparatur. Bertindak sebagai pembina apel, Widyaiswara Ahli Utama, Abdul Ma’in menyampaikan amanat yang menyoroti pentingnya memahami sosiologi modern dalam membentuk pola pengabdian Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kementerian Agama.
Dalam arahannya, Abdul Ma’in mengangkat pemikiran sosiolog asal Inggris, Anthony Giddens, khususnya mengenai Teori Strukturasi. Beliau menjelaskan bahwa negara dan institusi bukanlah struktur yang bersifat statis, melainkan terbentuk dari praktik sosial yang terus dilakukan oleh para pelakunya. “Negara dan institusi itu bukan sesuatu yang diam, tetapi hidup dari praktik sosial yang kita lakukan setiap hari,” ujarnya. Dalam konteks BDK, beliau menegaskan bahwa setiap ASN merupakan agen yang melalui tindakan sehari-harinya turut membentuk dan memperkuat struktur organisasi sekaligus keberadaan negara. Secara tidak langsung, ia mengingatkan bahwa kontribusi sekecil apa pun dari setiap pegawai memiliki arti penting dalam menjaga kokohnya sistem kelembagaan.
Lebih lanjut, Abdul Ma’in mengintegrasikan konsep tersebut ke dalam nilai-nilai pengabdian ASN. Ia menekankan pentingnya kesadaran agensi, di mana setiap pegawai harus memahami bahwa tugas yang dijalankan memiliki dampak terhadap keberlangsungan negara. Selain itu, praktik kerja harian harus mampu mereproduksi nilai-nilai positif seperti integritas dan profesionalisme, sehingga tidak terjebak dalam rutinitas semata. Ia juga menegaskan bahwa kepatuhan terhadap aturan serta pemanfaatan sumber daya negara secara tepat menjadi kunci dalam mencapai tujuan kolektif institusi. Dalam penjelasannya, ia secara tidak langsung mengajak seluruh ASN untuk menjadikan setiap pekerjaan sebagai bagian dari tanggung jawab besar dalam membangun sistem yang berkelanjutan.
Tak hanya menyoroti aspek struktural, Abdul Ma’in juga memberi penekanan pada dimensi emosional dan spiritual dalam pengabdian ASN. Ia mengingatkan pentingnya kecerdasan emosional, khususnya dalam menjaga sikap dan tutur kata di ruang publik. Menurutnya, ASN harus memiliki kepekaan sosial serta ketahanan mental agar tidak mudah terprovokasi oleh dinamika yang berkembang. “Kita harus mampu menjaga lisan dan sikap, jangan sampai justru memperkeruh suasana di tengah masyarakat,” tegasnya. Di sisi lain, beliau juga menekankan pentingnya kedalaman spiritual dengan menjadikan pekerjaan sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Beliau menyampaikan bahwa ASN yang memiliki dimensi spiritual kuat akan bekerja dengan jujur karena merasa selalu dalam pengawasan Tuhan, bukan semata karena takut pada atasan atau aturan.
Menutup rangkaian apel, Kepala BDK Surabaya, Muchammad Toha, memberikan arahan tambahan terkait pentingnya menjaga kondusivitas di tengah situasi nasional. Beliau mengapresiasi seluruh pegawai yang dinilai mampu menjaga integritas dan tidak terjebak dalam arus pro dan kontra politik di media sosial. Beliau menyampaikan rasa terima kasih kepada keluarga besar BDK Surabaya yang tetap tenang dan menahan diri dalam menyikapi berbagai kebijakan negara di ruang publik. Dalam pesannya, beliau menegaskan bahwa sebagai ASN, kewajiban utama adalah menjaga stabilitas serta menunjukkan kepatuhan terhadap pemerintah demi keberlangsungan pelayanan masyarakat yang optimal.
Apel pagi tersebut diakhiri dengan komitmen bersama seluruh pegawai untuk tetap fokus pada tugas pelayanan dan peningkatan kualitas pendidikan keagamaan, sekaligus terus menjaga kedamaian baik di lingkungan kerja maupun di tengah masyarakat.
Penulis: Mutia