
SURABAYA – Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya menegaskan pentingnya transformasi karakter dan penguatan inovasi bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui apel pagi yang digelar pada Senin (30/3/2026). Kegiatan ini berlangsung khidmat dan diikuti oleh jajaran pimpinan, widyaiswara, serta seluruh pegawai di lingkungan BDK Surabaya.
Apel pagi tersebut dipimpin oleh pembina apel, Dr. Moh. Sodiq, M.Pd.I, serta dihadiri oleh Kepala BDK Surabaya, Dr. H. Muchammad Toha, M.Si, Kepala Subbagian Tata Usaha Anton Sasono, S.E., M.AB., dan Koordinator Widyaiswara Dr. H. Makmun Hidayat, M.Pd.
Dalam amanatnya, Dr. Moh. Sodiq menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H kepada seluruh keluarga besar BDK Surabaya. Ia menekankan bahwa makna lebaran tidak boleh berhenti pada simbol atau formalitas saling memaafkan, termasuk yang kerap dilakukan melalui media sosial. Lebaran harus menjadi momentum perubahan nyata, menghadirkan pribadi baru yang lebih kuat secara karakter, lebih jernih dalam niat, serta lebih tinggi dalam komitmen kerja.
Menurutnya, Ramadhan merupakan proses penggemblengan diri yang membentuk ketahanan mental dan spiritual. Selama satu bulan penuh, setiap individu dilatih untuk mengendalikan diri, memperkuat kesabaran, serta meningkatkan kualitas ibadah. Oleh karena itu, pasca-Ramadhan seharusnya menjadi fase peningkatan kualitas diri, bukan kembali pada kebiasaan lama. “Ramadhan adalah ruang latihan. Setelahnya, kita dituntut untuk tampil lebih baik, lebih kuat, dan lebih siap menghadapi tantangan,” tegasnya.
Dalam arahannya, ia juga mengutip pemikiran Sukarno tentang filosofi “Negara Kuru” atau Kuru-Setra, yang menggambarkan sebuah negeri makmur, tenteram, dan penuh kesejahteraan. Namun, Bung Karno mengingatkan bahwa kondisi yang terlalu nyaman justru dapat melemahkan daya juang suatu bangsa. Pesan ini menjadi refleksi penting bagi ASN agar tidak terjebak dalam zona nyaman, tetapi berani menghadapi tantangan dan terus mengasah kapasitas diri.
Lebih lanjut, Dr. Moh. Sodiq menekankan pentingnya pembaruan niat dalam bekerja. Ia mengajak seluruh pegawai untuk menjadikan setiap aktivitas sebagai bentuk pengabdian terbaik bagi institusi dan masyarakat. Selain itu, inovasi dan aktualisasi diri harus menjadi komitmen berkelanjutan, tidak berhenti hanya pada pelatihan seperti Latsar, tetapi terus diwujudkan dalam praktik kerja sehari-hari.
Dalam konteks pelayanan publik, ASN juga didorong untuk berani keluar dari pola kerja yang monoton. Rutinitas tanpa pembaruan dinilai berpotensi menghambat kemajuan. Oleh karena itu, setiap pegawai diharapkan mampu menciptakan tantangan baru yang mendorong lahirnya ide-ide segar, solusi kreatif, serta pendekatan kerja yang lebih efektif dan berdampak.
Di tengah dinamika global yang terus berkembang, termasuk berbagai konflik internasional, ASN juga diingatkan untuk tetap menjaga stabilitas, memperkuat rasa syukur, serta memberikan kontribusi maksimal di lingkungan kerja masing-masing.
Apel pagi ditutup dengan doa bersama sebagai bentuk ikhtiar spiritual agar seluruh amal ibadah selama Ramadhan membawa dampak positif yang berkelanjutan, baik bagi individu maupun organisasi. Suasana kebersamaan yang terbangun menjadi refleksi bahwa nilai-nilai Ramadhan tidak berhenti pada bulan suci semata, tetapi harus terus hidup dalam keseharian.
Dengan semangat baru pasca-lebaran, BDK Surabaya menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat profesionalisme ASN, serta menghadirkan pelayanan publik yang adaptif, inovatif, dan berintegritas.
Penulis: Alia