


Surabaya — Suasana apel pagi rutin mewarnai aktivitas kerja pegawai Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya pada Senin (12/1/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh pegawai, dengan widyaiswara ahli utama, Jamal hadir sebagai pembina apel.
Dalam amanatnya, Jamal menyoroti pentingnya membangun sistem kerja yang sehat dan berkeadilan sebagai fondasi terciptanya lingkungan kerja yang tulus, ikhlas, serta membahagiakan. Ia menegaskan bahwa kinerja aparatur tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh faktor-faktor pendukung yang saling berkaitan.
“Ada beberapa faktor yang membuat seseorang bekerja dengan tulus, ikhlas, senang, dan bahagia. Kita tidak bisa menutup mata bahwa pendapatan adalah salah satunya,” ujar Jamal.
Selain pendapatan, Jamal menyebut beban kerja sebagai faktor kedua yang berpengaruh terhadap kenyamanan dan produktivitas pegawai. Beban kerja yang tidak seimbang, menurutnya, berpotensi menurunkan semangat serta kualitas kinerja aparatur.
Faktor ketiga yang tak kalah penting, lanjut Jamal, adalah sistem kerja yang tertata dengan baik, mulai dari regulasi yang jelas hingga prinsip-prinsip yang dijunjung tinggi dalam sebuah lembaga. Sistem yang sehat diyakini mampu menciptakan kepastian, rasa keadilan, dan kenyamanan dalam bekerja.
“Sistem itu kunci. Ketika regulasi jelas, prinsip ditegakkan, dan tata kelola berjalan baik, pegawai akan merasa aman dan dihargai,” tegasnya.
Ia juga menyinggung faktor jarak, baik secara geografis maupun sosial. Hubungan yang harmonis antara pimpinan dan bawahan, serta antarpegawai, dinilai berperan besar dalam membentuk iklim kerja yang positif dan kolaboratif.
Menurut Jamal, keempat faktor tersebut—pendapatan, beban kerja, sistem, dan relasi—saling berkaitan satu sama lain. Namun demikian, sistem disebut sebagai faktor yang paling menentukan karena mampu mengatur dan menyeimbangkan unsur-unsur lainnya.
“Empat faktor ini saling berhubungan, tetapi yang paling berpengaruh adalah sistem. Membangun sistem yang baik adalah langkah yang sangat tepat dan strategis,” katanya.
Melalui apel pagi tersebut, Balai Diklat Keagamaan Surabaya menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat tata kelola kelembagaan dan menumbuhkan budaya kerja yang profesional, humanis, serta berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia aparatur.
Penulis: Mutia