
JAKARTA (10/3) – Bayangkan jika Anda membeli martabak, namun rasanya hanya polosan tanpa topping. Tentu terasa hambar dan tidak menarik, bukan? Analogi unik inilah yang disampaikan oleh Kepala BMBPSDM Kemenag RI, Muhammad Ali Ramdhani, saat menyapa para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemuda lintas agama secara virtual melalui Zoom pada Selasa (10/3).
Beliau yang akrab disapa Kaban ini menggunakan filosofi “Martabak Aneka Rasa” untuk menggambarkan betapa kayanya keberagaman Indonesia. Menurutnya, perbedaan latar belakang di tanah air bukanlah pemicu perpecahan, melainkan bumbu yang membuat bangsa ini menjadi lebih “lezat” dan istimewa. Keberagaman adalah kekuatan yang harus dirawat dalam satu adonan komitmen kebangsaan, bukan diperdebatkan.
Belajar dari Tragedi Suriah
Di balik analogi yang jenaka tersebut, terselip pesan serius mengenai dinamika global saat ini. Beliau mengajak para peserta melakukan refleksi mendalam dengan mengambil contoh tragedi di Suriah. Negara yang dulunya memiliki ekonomi kuat dan makmur tersebut seketika luluh lantak akibat paparan virus ekstremisme dan radikalisme.
“Ekonomi hebat bisa hancur sekejap kalau radikalisme masuk. Konflik di Suriah menjadi pelajaran penting bahwa ekonomi kuat saja tidak cukup tanpa adanya kedamaian dan toleransi,” tegasnya.
Pesan ini menjadi pengingat keras bahwa stabilitas nasional adalah barang mahal yang harus dijaga secara kolektif oleh seluruh elemen masyarakat.
Moderasi Beragama: Benteng Persatuan
Menyadari besarnya risiko radikalisme, Kaban menegaskan bahwa Moderasi Beragama adalah kunci utama untuk menjaga persatuan. Beliau meluruskan persepsi keliru yang sering beredar: moderasi bukanlah upaya mendangkalkan akidah atau mengubah ajaran agama.
Sebaliknya, Moderasi Beragama adalah cara kita memandang agama sebagai perekat kehidupan berbangsa melalui empat pilar utama: Cara pandang yang moderat: Mengambil jalan tengah dalam menyikapi perbedaan; Ketaatan beragama: Menjalankan ibadah dengan sungguh-sungguh tanpa merendahkan keyakinan orang lain; Komitmen kebangsaan: Kesadaran kuat akan persatuan NKRI; Sikap inklusif: Interpretasi agama yang merangkul dan menghargai keberagaman, bukan memukul atau menghakimi.
Filosofi Ngajeni lan Ngewongno Uwong
Pemaparan tersebut semakin menyentuh hati ketika Kaban menyisipkan nilai kearifan lokal dalam prinsip toleransi. Beliau menekankan pentingnya filosofi Jawa, Ngajeni lan Ngewongno Uwong, yang berarti menghargai dan memanusiakan sesama manusia.
Jika prinsip memanusiakan manusia ini tertanam kuat dalam sanubari, maka kekerasan tidak akan lagi memiliki ruang untuk tumbuh. Dengan semangat saling menghargai tanpa merasa paling benar sendiri, harmoni di tengah masyarakat akan tetap terjaga.
Menuju Indonesia Emas 2045
Menutup arahannya dengan penuh optimisme, Ali Ramdhani meyakini bahwa jika seluruh elemen masyarakat sukses merawat “Martabak Aneka Rasa” Indonesia ini dengan bumbu Moderasi Beragama, maka cita-cita Indonesia Emas 2045 bukan sekadar mimpi di siang bolong.
Pesan ini menjadi energi baru bagi para tokoh lintas agama untuk terus menebarkan semangat kedamaian. Mari kita mulai ngajeni sesama, agar “martabak” Indonesia semakin juara rasanya!
Penulis: Dewi