


Surabaya – Bulan Ramadan menjadi momentum penting bagi setiap Muslim untuk memperbaiki diri, termasuk meluruskan niat dalam setiap amal. Pesan itu disampaikan Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya, Makmun Hidayat, dalam kultum Ramadan yang disampaikan kepada para pegawai pada Selasa (10/3/2026).
Dalam kultumnya yang mengangkat tema “Ramadan Bulan Tazkiyatun Niat”, Makmun mengingatkan bahwa niat merupakan fondasi utama dari setiap amal perbuatan. Ia menjelaskan bahwa amal yang besar sekalipun dapat menjadi sia-sia jika tidak dilandasi niat yang ikhlas karena Allah SWT.
Makmun mengutip sebuah hadis yang menceritakan tiga golongan manusia yang kelak menghadap Allah pada hari kiamat, namun amal mereka tidak diterima karena niat yang tidak lurus. Golongan tersebut adalah orang yang berjihad hingga mati syahid, orang yang berilmu dan menyampaikan ajaran agama, serta orang yang gemar bersedekah.
“Mereka datang menghadap Allah dengan membawa amal yang besar. Namun Allah mengetahui bahwa di balik amal tersebut ada niat lain, seperti ingin dipuji, dikenal, atau disebut sebagai orang alim. Karena itu amal mereka menjadi tertolak,” ujar Makmun.
Menurutnya, kisah tersebut menjadi pengingat penting bahwa niat memiliki peranan yang sangat menentukan dalam diterima atau tidaknya sebuah amal. “Intinya, niat itu memegang peranan yang sangat penting. Sampai-sampai amal yang sangat baik pun bisa tertolak jika ada niat lain selain karena Allah SWT,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Makmun juga mengajak para pegawai untuk mengimplementasikan nilai tazkiyatun niat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam bekerja di lingkungan kantor. Ia menjelaskan secara sederhana melalui analogi teori bilangan untuk menggambarkan bagaimana niat memengaruhi nilai sebuah amal.
Ia mencontohkan, jika satu kegiatan dilakukan dengan satu tujuan yang murni karena Allah, maka nilainya akan utuh. Namun jika dalam satu kegiatan terdapat beberapa harapan lain seperti ingin dipuji atau diakui, maka nilai amal tersebut akan berkurang.
“Semakin banyak pengharapan selain Allah, semakin kecil nilai yang kita dapatkan. Bahkan yang muncul justru bisa berupa kekecewaan ketika harapan itu tidak terpenuhi,” jelasnya.
Karena itu, Makmun mengajak seluruh pegawai untuk meniatkan setiap pekerjaan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah. Ia menekankan bahwa bekerja dengan niat yang lurus tidak hanya menghadirkan keberkahan, tetapi juga menjaga hati dari rasa kecewa maupun kesombongan.
“Ketika kita bekerja dengan menolkan semua keinginan selain Allah, maka insyaallah kita akan mendapatkan nilai yang tak terhingga, berupa keberkahan dan keselamatan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pencapaian kinerja yang baik tidak boleh menjadi alasan untuk bersikap sombong. Sebaliknya, hal tersebut harus disyukuri sebagai amanah yang harus dijaga dengan tetap meluruskan niat.
Melalui kultum Ramadan ini, Makmun berharap seluruh pegawai BDK Surabaya dapat menjadikan bulan suci sebagai momentum untuk membersihkan niat, sehingga setiap ibadah dan pekerjaan yang dilakukan benar-benar bernilai di sisi Allah SWT.
“Ramadan adalah bulan yang tepat untuk memperbaiki niat. Mudah-mudahan apa yang kita lakukan, baik dalam ibadah maupun pekerjaan, benar-benar menjadi amal yang diterima oleh Allah SWT,” pungkasnya.
Penulis: Mutia