

Surabaya – Suasana Ramadan di Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya kembali diisi dengan kegiatan kuliah tujuh menit (kultum) yang sarat makna pada Selasa (4/3/2026). Seluruh pegawai mengikuti kegiatan ini dengan khidmat untuk memperdalam pemahaman tentang makna puasa yang sesungguhnya.
Dalam kultum tersebut, widyaiswara BDK Surabaya, Musfiqon, mengangkat tema “Dua Sifat yang Disenangi Allah”. Ia mengingatkan bahwa puasa tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran spiritual bahwa manusia selalu berada dalam pengawasan Allah SWT.
Musfiqon menjelaskan bahwa definisi puasa yang selama ini dikenal memang berkaitan dengan menahan makan, minum, dan syahwat. Namun menurutnya, ada makna yang lebih dalam dari ibadah puasa, yaitu kesadaran untuk senantiasa merasa diawasi oleh Allah atau bil muraqabah.
“Ramadan ini kita melaksanakan puasa yang secara umum kita pahami sebagai menahan makan, minum, dan syahwat. Tetapi ada makna yang lebih dalam, yaitu ketika kita berpuasa dengan merasa selalu diawasi dan berada dalam pengawasan Allah Subhanahu wa ta’ala,” ujarnya.
Kesadaran tersebut, lanjut Musfiqon, akan mendorong manusia untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menurutnya, Ramadan menghadirkan banyak sarana untuk meningkatkan kedekatan spiritual, mulai dari majelis taklim, qiyamul Ramadan, hingga berbagai kegiatan keagamaan di masjid dan musala.
Ia menegaskan bahwa kesempatan tersebut seharusnya dimanfaatkan sebaik mungkin oleh umat Islam untuk memperdalam makna puasa, bukan sekadar menjalankan rutinitas ibadah.
Selain itu, Musfiqon menyoroti salah satu persoalan manusia modern, yaitu banyaknya keinginan yang sering kali tidak terkendali. Ia menilai puasa hadir sebagai sarana untuk mendidik manusia agar mampu mengendalikan keinginan-keinginan tersebut.
Menurutnya, semakin banyak keinginan yang tidak terkontrol, semakin besar pula potensi kegelisahan dalam hidup seseorang. Ia menggambarkan kondisi itu dengan ungkapan Jawa “kakean karep” atau terlalu banyak keinginan, yang pada akhirnya membuat hidup menjadi tidak tenang.
Dalam ceramahnya, Musfiqon juga mengingatkan pentingnya menunaikan kewajiban puasa, termasuk melunasi utang puasa Ramadan yang belum ditunaikan. Ia mengutip hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa seseorang yang meninggal dunia masih memiliki utang puasa Ramadan, maka kewajiban tersebut dapat ditunaikan oleh ahli warisnya.
Karena itu, ia mengajak para jamaah untuk lebih memperhatikan kewajiban tersebut sebagai bagian dari bentuk bakti kepada orang tua.
Di sisi lain, Musfiqon turut menyinggung fenomena kehidupan modern yang serba cepat dan cenderung tergesa-gesa. Menurutnya, gaya hidup seperti itu sering kali membuat manusia kehilangan ketenangan dan tidak menikmati proses kehidupan.
Ia menilai kondisi tersebut terlihat dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari cara orang bekerja hingga perilaku di jalan raya yang penuh dengan sikap saling mendahului tanpa kesabaran.
Dari situ, Musfiqon menegaskan bahwa ada dua sifat yang sangat dicintai oleh Allah SWT, yaitu kemampuan untuk menahan diri dan sikap tenang dalam menjalani kehidupan.
“Dua sifat yang disenangi Allah adalah menahan diri dan tenang. Karena itu hidup kita perlu di-reset, disetel ulang, agar tidak selalu tergesa-gesa,” ungkapnya.
Ia kemudian mengajak para peserta untuk mulai menerapkan konsep slow living, yaitu menjalani kehidupan dengan lebih tenang, santai, namun tetap penuh kesadaran dan menikmati setiap proses yang dijalani.
Menurutnya, dengan hidup yang lebih tenang, manusia dapat merasakan makna kehidupan secara lebih mendalam sekaligus menjaga keseimbangan antara aktivitas duniawi dan spiritual.
“Setiap proses kehidupan itu perlu kita nikmati. Jangan tergesa-gesa. Mari kita reset pikiran dan hati kita untuk hidup dengan tenang,” kata Musfiqon menutup kultumnya.
Kegiatan kultum Ramadan ini menjadi salah satu upaya BDK Surabaya dalam menghadirkan ruang refleksi spiritual bagi seluruh pegawai selama bulan suci, sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis: Mutia