Surabaya – Balai Diklat Keagamaan Surabaya kembali menghadirkan diskusi ilmiah yang hangat diperbincangkan publik melalui penyelenggaraan Webinar Seri 8 bertema “Integrasi Ekoteologi dalam Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)”. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (9/12/25) itu diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai wilayah Indonesia melalui Zoom Meeting. Acara dibuka secara resmi oleh Plt. Kepala Balai Diklat Keagamaan Surabaya, Muslimin.
Dalam sambutannya, Muslimin menegaskan bahwa ekoteologi merupakan gagasan yang berakar pada Asta Protas Kementerian Agama, kemudian dikembangkan dalam kerangka Kurikulum Berbasis Cinta. “Ekoteologi ini sesungguhnya berangkat dari Asta Protas Kementerian Agama, kemudian dikaitkan dengan kurikulum berbasis cinta. Hal ini penting untuk mendekatkan alam semesta dengan spiritualitas. Salah satu pilarnya adalah menumbuhkan kecintaan terhadap alam,” ujarnya.
Sebagai narasumber pertama, Sholehuddin memaparkan fondasi ekoteologi dan relevansinya terhadap pendidikan masa kini. Ia menjelaskan bahwa ekoteologi merupakan perpaduan antara perspektif keagamaan dan kesadaran ekologis, yakni bagaimana nilai-nilai agama dapat menjawab permasalahan lingkungan. Ia menguraikan empat pilar ekoteologi: tauhid, bahwa alam adalah manifestasi kekuasaan Tuhan; khalifah, bahwa manusia berkedudukan sebagai pemimpin di muka bumi; amanah, yaitu keharusan mempertanggungjawabkan setiap tindakan terhadap lingkungan; serta keseimbangan, sebagai prinsip menjaga harmoni ciptaan.
Narasumber kedua, Maftuchah Mustiqowati, Kepala Madrasah Al Hikam Jombang, membagikan pengalaman implementasi pendidikan lingkungan melalui program Adiwiyata. Ia menuturkan bahwa pembiasaan sikap peduli lingkungan di sekolahnya tidak sebatas penanaman pohon atau menjaga kebersihan. Lebih dari itu, madrasah membangun budaya ekologi melalui pengurangan sampah plastik, pemilahan sampah, hingga pemanfaatan ruang hijau sebagai laboratorium hidup dan ruang eksplorasi siswa.
Maftuchah menjelaskan bahwa sejumlah praktik Adiwiyata menunjukkan efektivitas integrasi pendidikan lingkungan dengan rutinitas belajar siswa. Ia menambahkan bahwa kegiatan pembelajaran di Madrasah Al Hikam kerap diperkaya dengan proyek lingkungan, observasi lapangan, dan kegiatan reflektif yang mengaitkan fenomena alam dengan pesan-pesan keagamaan. Dengan cara ini, siswa memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari praktik keimanan, bukan sekadar tugas sekolah.
Webinar bertema “Integrasi Ekoteologi dalam Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)” ini mempertegas pentingnya menghadirkan isu lingkungan dalam perspektif spiritual dan pedagogis. Melalui diskusi yang komprehensif, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat arah pendidikan nasional yang lebih humanis, ekologis, dan berkelanjutan.
Publish: Mutia