
Surabaya — Bulan suci Ramadan dimanfaatkan Balai Diklat Keagamaan Surabaya untuk menegaskan kembali peran aparatur negara dalam merawat bumi. Melalui kultum Ramadan yang digelar pada Senin (23/2/26), BDK Surabaya mengangkat tema Ekoteologi: Tempat Kerja sebagai Madrasah Cinta Lingkungan, sebuah isu strategis yang selaras dengan arah kebijakan Kementerian Agama.
Kultum disampaikan oleh Zainul Arief, yang menekankan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukan sekadar urusan teknis, melainkan bagian dari iman dan tanggung jawab spiritual manusia sebagai khalifah di bumi.
“Menjaga lingkungan adalah bagian dari ketaatan kepada Allah SWT. Hubungan manusia dengan alam bukan hubungan eksploitasi, tetapi amanah dan tanggung jawab,” tegasnya di hadapan jamaah salat Zuhur.
Menurut Zainul Arief, konsep ekoteologi menuntut adanya keteladanan nyata, terutama dari institusi pemerintah. Ia menilai, akan terasa hambar jika wacana teologis tentang lingkungan hanya berhenti pada tataran sosialisasi tanpa praktik konkret di tempat kerja.
Ia menambahkan, kantor idealnya menjadi ruang edukasi ekologis—bersih, hemat energi, dan minim sampah. “Kantor bukan sekadar tempat bekerja, tapi bisa menjadi madrasah yang mengajarkan cinta lingkungan melalui kebiasaan sehari-hari,” ujarnya.
Dalam kultumnya, Zainul Arief juga mengutip firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 30 dan QS. Al-A’raf ayat 56 sebagai landasan teologis bahwa manusia dilarang melakukan kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya. Ia mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan tidak selalu hadir dalam skala besar. Perilaku kecil seperti boros listrik, penggunaan plastik berlebihan, hingga membuang sampah sembarangan, menurutnya, merupakan bentuk kerusakan yang kerap diremehkan.
Secara tidak langsung, ia mengapresiasi perhatian pimpinan BDK Surabaya terhadap pengelolaan lingkungan kantor yang dinilai sudah cukup baik, baik di dalam gedung maupun di area luar. Namun, ia juga menyampaikan sejumlah catatan konstruktif, seperti perlunya penataan arah AC di beberapa kamar peserta pelatihan agar lebih ramah kesehatan, penambahan tempat sampah di area luar gedung, serta pelabelan yang jelas antara sampah organik dan anorganik.
Gagasan inovatif turut disampaikan dalam kultum tersebut, salah satunya pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk kompos melalui metode Teba Modern. Menurutnya, pengolahan sisa makanan dan daun kering di lingkungan kantor bukan hanya mengurangi limbah, tetapi juga menjadi solusi berkelanjutan untuk kesuburan tanaman tanpa ketergantungan pada pupuk kimia.
“Jangan sampai kita rajin salat, tapi abai terhadap sampah. Jangan sampai kita rajin berdzikir, tetapi boros energi,” pesannya menutup kultum.
Melalui kultum Ramadan ini, BDK Surabaya tidak hanya menghadirkan pesan keagamaan yang reflektif, tetapi juga menegaskan komitmen moral bahwa spiritualitas dan kepedulian lingkungan harus berjalan beriringan. Dari mimbar kecil di bulan suci, isu besar tentang masa depan bumi kembali digaungkan—dimulai dari tempat kerja, dari kebiasaan sederhana, dan dari kesadaran iman.
Penulis: Mutia