
SURABAYA – Pernah terpikir bahwa taqwa bukan sekadar rajin menjalankan ibadah ritual? Di tengah suasana sejuk Musholla Al Hikmah, Selasa (17/03/2026), Machzudi, S.Ag., M.Si., Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Surabaya, mengajak jamaah memahami bahwa taqwa sejati akan melahirkan “kualitas mahal” dalam diri seseorang.
Melalui pemaknaan QS. Ali Imran ayat 134, ia mengingatkan bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan “upgrade” karakter secara menyeluruh.
Menurutnya, Ramadhan adalah waktu terbaik untuk membangun sikap simpati dan empati melalui taqarrub, yakni mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dari ayat tersebut, terdapat tiga karakter utama yang mencerminkan pribadi bertaqwa.
Pertama, gemar berinfak, baik dalam kondisi lapang maupun sempit, tidak hanya dalam bentuk harta, tetapi juga ilmu dan kontribusi nyata kepada sesama.
Kedua, mampu mengendalikan amarah sebagai bentuk kedewasaan spiritual yang tidak mudah tergoyahkan oleh situasi.
Ketiga, memiliki kelapangan hati untuk memaafkan kesalahan orang lain dengan tulus.
Machzudi menegaskan, nilai-nilai tersebut menunjukkan bagaimana Al-Qur’an mampu menghadirkan keseimbangan antara ketegasan moral dan kelembutan spiritual.
“Tidak menghakimi, tetapi mengarahkan. Tidak menghukum, tetapi membimbing untuk pulih dan sadar. Tidak membenci, tetapi menghadirkan solusi yang Islami,” ujarnya.
Ia juga mengajak jamaah untuk lebih fokus memperbaiki diri daripada mencari kesalahan orang lain. Dengan demikian, lingkungan yang tercipta tidak hanya religius, tetapi juga harmonis dan menyejukkan.
Kultum singkat ini menjadi pengingat bahwa kualitas puasa sejatinya tercermin dari akhlak. Bukan hanya dari apa yang ditahan, tetapi dari bagaimana seseorang mampu mengendalikan diri dan menebarkan kebaikan.
Penulis: Dewi