
Surabaya – Perundungan dan bullying terus menjadi tantangan serius di dunia pendidikan, terutama karena dampaknya terhadap kesehatan mental siswa jika tidak segera diatasi. Balai Diklat Keagamaan Surabaya merespons isu ini dengan menyelenggarakan Webinar Seri ke-10 bertajuk anti-bullying pada Selasa (3/2/2026) melalui platform Zoom. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber ahli : Agus Akhmadi, dan Khobibah, yang berbagi pemaparan informatif tentang pencegahan dan penanganan bullying di lingkungan sekolah. Diskusi dipandu oleh moderator Siti Zubaidah, yang menjaga suasana tetap dinamis dan interaktif.
DR. AGUS AKHMADI INGATKAN “KURIKULUM CINTA” KEMENAG UNTUK CEGAH BULLYING DI SEKOLAH
Sesi pertama pemaparan materi dalam acara pelatihan kependidikan dibuka oleh narasumber Agus Akhmadi, yang mengutip pesan Menteri Agama tentang “Kurikulum Cinta”. Pesan itu berbunyi, “Membuat dan menciptakan lingkungan yang aman bagi pendidikan, sehingga melahirkan manusia-manusia yang penuh dengan cinta.” Menurut Agus, akar masalah perundungan dan bullying bermula dari kurangnya dukungan lingkungan. Pelaku sering mencari pengakuan dengan cara menghina, merendahkan, mengancam korban, bahkan memanggil mereka bukan dengan nama asli melainkan nama orang tua. “Fenomena ini tidak boleh dibiarkan begitu saja,” tegasnya.
PENCEGAHAN DIMULAI DARI ORANG TUA DAN SEKOLAH
Agus menekankan peran orang tua sebagai garda terdepan. Mereka harus peka terhadap perubahan perilaku anak untuk mencegah, melindungi, dan menangani kasus bullying. Sementara itu, pihak sekolah diharapkan tanggap terhadap siswa yang tampak sedih atau kurang bersemangat. Layanan Bimbingan Konseling (BK) harus dimanfaatkan secara efektif untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman. Pemaparan ini menjadi pengingat penting bagi para pendidik dan orang tua dalam membangun generasi penuh kasih sayang, sejalan dengan visi Kurikulum Cinta Kementerian Agama.
KHOBIBAH: BANGUN EMPATI SEJAK DINI UNTUK CEGAH KEKERASAN DAN BULLYING PADA ANAK
Dalam sesi kedua seminar pendidikan anak, Khobibah menyoroti pentingnya membangun empati sejak dini guna mencegah kekerasan dan perundungan di kalangan anak-anak. Menurutnya, kekerasan seksual menjadi bentuk dominan yang dialami banyak anak, dengan anak perempuan sebagai korban utama meskipun anak laki-laki pun berpotensi mengalaminya dalam tingkat lebih rendah. “Perundungan dan bullying merupakan tanda bahwa pendidikan nilai moral belum terselesaikan dengan baik,” tegasnya.
KHOBIBAH JUGA MENGURAIKAN PENYEBAB TIDAK LANGSUNG DARI PERILAKU BULLYING, YANG MELIPUTI:
Perundungan atau bullying di kalangan remaja sering kali berakar dari pola asuh keluarga dan lingkungan yang tidak sehat. Psikolog menyebutkan empat faktor utama penyebabnya: pola asuh berlebihan (overparenting), lingkungan yang menekan, perilaku orang tua yang kurang bijak, serta kurangnya pengelolaan emosi anak.
Menurut Khobibah, faktor-faktor ini merusak fondasi perkembangan emosional remaja. “Anak yang tumbuh tanpa rasa aman, rasa dicintai, pengakuan atas usahanya, dan batasan yang jelas cenderung mencari kendali melalui bullying,” ujarnya.
Faktor penyebabnya pertama, pola asuh berlebihan. Orang tua yang terlalu melindungi membuat anak kesulitan menghadapi kegagalan, sehingga meledakkan frustrasi ke teman sebaya. Kedua, lingkungan menekan. Tekanan sekolah atau sosial media mendorong perilaku agresif untuk “bertahan”. Ketiga, perilaku orang tua. Jika orang tua sering marah atau diskriminatif, anak meniru pola tersebut. Keempat, kurang pengelolaan emosi. Tanpa pelatihan, emosi negatif berubah jadi kekerasan verbal atau fisik.
Untungnya, bullying bisa dicegah dengan pendekatan proaktif di rumah dan sekolah. Cara efektif berdasarkan rekomendasi psikolog yaitu membiasakan diskusi perasaan, validasi emosi bukan perilaku, latih sudut pandang orang lain, berikan konsekuensi mendidik, dan beri contoh sikap baik.
Dengan menerapkan ini, orang tua dan guru bisa membentuk generasi yang empati dan bebas bullying. “Pencegahan dimulai dari rumah,” tegas Khobibah.
Penulis: Hadid
Editor: Mutia