Surabaya – Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya kembali menggelar apel pagi rutin pada Senin (13/4/26). Kegiatan yang dilaksanakan setiap awal pekan ini dihadiri oleh seluruh pegawai, dengan widyaiswara BDK Surabaya, Makmun Hidayat bertindak sebagai pembina apel. Apel pagi tersebut menjadi momentum untuk memperkuat mentalitas pegawai di atas dinamika organisasi dan tantangan efisiensi anggaran negara yang tengah dihadapi.
Dalam arahannya, Makmun Hidayat menekankan pentingnya mengedepankan “politik kesabaran” di tengah situasi yang serba terbatas. Beliau mengakui bahwa kondisi anggaran saat ini jauh lebih ketat, bahkan melampaui efisiensi pada masa pandemi COVID-19, sehingga berdampak pada berbagai aspek operasional lembaga. Meski demikian, beliau mengingatkan bahwa situasi ini harus disikapi dengan kedewasaan dan ketenangan.
“Kondisi efisiensi ini adalah fakta yang dirasakan semua pihak. Saya meminta semuanya untuk bersabar dan tetap menjaga kekompakan. Saya tidak ingin ada kebencian di antara kita hanya karena tekanan situasi,” tegas Makmun. Secara tidak langsung, beliau juga mengajak seluruh pegawai untuk melihat tantangan ini sebagai ujian kedewasaan organisasi, bukan sebagai alasan untuk saling menyalahkan. Beliau bahkan berbagi pengalaman pribadinya terkait kendala perjalanan dinas sebagai bentuk empati bahwa setiap unsur organisasi memiliki tantangan masing-masing.
Makmun juga menegaskan bahwa budaya saling menyalahkan tidak boleh tumbuh di lingkungan kerja. Beliau mendorong terciptanya suasana kerja yang sehat dengan menjunjung tinggi prinsip “no blame culture”, di mana setiap persoalan diselesaikan secara kolektif tanpa mencari kambing hitam. Dalam konteks ini, beliau memastikan bahwa pimpinan berkomitmen untuk bersikap terbuka terhadap masukan dan kritik sebagai bagian dari penguatan organisasi.
Lebih lanjut, Makmun menegaskan bahwa kondisi efisiensi anggaran yang bahkan berada di bawah level masa pandemi harus dihadapi dengan resiliensi tinggi serta kemampuan menentukan skala prioritas program secara tepat. Beliau juga menekankan pentingnya komunikasi yang berkelanjutan dalam mengawal setiap agenda strategis agar tetap memberikan dampak optimal bagi organisasi.
Apel pagi tersebut ditutup dengan pesan agar seluruh pegawai tetap fokus pada tugas pelayanan dan pembangunan Zona Integritas. Makmun Hidayat mengingatkan bahwa integritas merupakan fondasi utama yang tidak boleh goyah, sekalipun organisasi berada dalam tekanan keterbatasan anggaran. “Integritas adalah kekuatan kita. Dalam kondisi apa pun, itu yang harus kita jaga,” ujarnya.
Penulis: Mutia