
Surabaya – Balai Diklat Keagamaan Surabaya kembali menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menggelar diseminasi pembelajaran numerasi berbasis KGA dan CBM, Senin (24/2/2026). Kegiatan yang berlangsung dinamis itu menghadirkan Widyaiswara BDK Surabaya, Ninik Supriyati, sebagai narasumber utama. Acara dibuka langsung oleh Kepala BDK Surabaya, Muchammad Toha, serta diikuti seluruh widyaiswara dengan penuh antusias dan semangat kolaboratif.
Dalam sambutannya, Muchammad Toha menegaskan bahwa penguatan numerasi bukan lagi sekadar kebutuhan akademik, melainkan kompetensi dasar yang harus dimiliki pendidik di era berbasis data. Ia menyampaikan bahwa widyaiswara memiliki peran strategis dalam menanamkan cara berpikir logis dan sistematis kepada peserta diklat. Menurutnya, penguasaan numerasi akan memperkuat kualitas pengambilan keputusan, baik di ruang kelas maupun dalam tata kelola kelembagaan.
Sementara itu, Ninik Supriyati membuka sesi dengan penegasan yang menggugah. “Tujuan pembelajaran numerasi adalah untuk mengasah kemampuan analisis data, berpikir logis, dan memecahkan masalah praktis di kehidupan nyata,” ujarnya di hadapan peserta. Ia menekankan bahwa numerasi tidak berhenti pada angka, tetapi menyentuh cara seseorang memahami realitas secara rasional dan terukur.
Tak sekadar memaparkan konsep, Ninik langsung mengajak peserta mempraktikkan pendekatan KGA dan CBM dalam simulasi pembelajaran. Para widyaiswara tampak aktif berdiskusi, menganalisis studi kasus, hingga menyusun strategi implementasi di kelas. Ia juga menjelaskan secara tidak langsung bahwa pendekatan berbasis asesmen berkelanjutan seperti CBM memungkinkan pendidik memetakan perkembangan kompetensi peserta secara lebih akurat dan responsif.
Suasana forum berlangsung hidup. Tawa dan perdebatan konstruktif sesekali mengisi ruangan, menandakan keterlibatan penuh peserta. Sejumlah widyaiswara bahkan menyampaikan pandangan bahwa metode ini membuka perspektif baru dalam merancang pembelajaran yang lebih kontekstual dan aplikatif.
Diseminasi ini menjadi bukti bahwa transformasi pembelajaran di lingkungan Balai Diklat Keagamaan Surabaya terus bergerak progresif. Di tengah tuntutan zaman yang serba cepat dan berbasis data, penguatan numerasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Dan dari Surabaya, semangat itu kini digaungkan untuk memberi dampak lebih luas di kancah pendidikan nasional.
Penulis: Mutia