
Surabaya (23/2/2026) — Mengawali pekan sekaligus menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H, Balai Diklat Keagamaan Surabaya melaksanakan apel rutin Senin pagi yang berlangsung dengan khidmat di halaman kantor. Bertindak sebagai pembina apel, Dr. Sutowijoyo, M.Pd., Widyaiswara Ahli Utama BDK Surabaya, dengan dihadiri Kepala BDK Surabaya, Kasubbag Tata Usaha, Koordinator Widyaiswara, serta seluruh pegawai.
Dalam amanatnya, Dr. Sutowijoyo menyampaikan ucapan selamat memasuki bulan suci Ramadhan 1447 H, seraya mengajak seluruh pegawai menjadikan Ramadhan sebagai momentum meningkatkan kualitas ibadah dan pengabdian.
“Selamat memasuki bulan Ramadhan 1447 Hijriah. Semoga seluruh amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT,” ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut, ia menyampaikan refleksi menarik dengan mengaitkan momen Ramadhan dengan proses renovasi yang sedang berlangsung di lingkungan BDK Surabaya. Menurutnya, efisiensi tidak hanya terjadi dalam tata kelola pemerintahan atau pembangunan fisik, tetapi juga terjadi secara alami dalam tubuh manusia melalui mekanisme biologis yang disebut survival efficiency.
Ia menjelaskan bahwa saat berpuasa, tubuh tetap mampu bertahan dan menjalankan fungsinya secara optimal meskipun tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman dalam kurun waktu tertentu. Hal ini terjadi karena adanya mekanisme ilmiah yang dikenal sebagai autofagi (autophagy), yaitu proses daur ulang sel untuk menjaga keseimbangan dan kesehatan tubuh.
Konsep ini sejalan dengan temuan ilmuwan Jepang, Yoshinori Ohsumi, yang dianugerahi Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran tahun 2016 atas penelitiannya tentang mekanisme autofagi. Melalui risetnya, Ohsumi menemukan bahwa sel memiliki kemampuan untuk mendaur ulang komponen yang rusak atau tidak diperlukan, sehingga membantu regenerasi sel, meningkatkan daya tahan tubuh, serta berperan dalam mencegah berbagai penyakit seperti kanker, Parkinson, dan diabetes.
“Jika dinding yang rusak harus direnovasi atau diganti, maka tubuh kita memiliki mekanisme luar biasa. Sel-sel yang rusak dapat didaur ulang dan diregenerasi kembali melalui proses autofagi,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa kondisi puasa memicu proses autofagi secara alami, yang tidak hanya membantu regenerasi sel, tetapi juga memperkuat sistem pertahanan tubuh terhadap virus, bakteri, bahkan sel-sel abnormal.
Hal ini, lanjutnya, selaras dengan sabda Rasulullah SAW: “Berpuasalah, maka kamu akan sehat.” Puasa tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan yang telah terbukti secara ilmiah.
Mengakhiri amanatnya, Dr. Sutowijoyo mengajak seluruh pegawai menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk meningkatkan efisiensi diri, memperbaiki kualitas spiritual, serta memperkuat integritas dan semangat pengabdian.
Apel pagi ini menjadi pengingat bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang proses pembaruan diri, penguatan mental, serta peningkatan kualitas pribadi dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai abdi negara.
Penulis: Alia