
SURABAYA – Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya mengawali pekan dengan sebuah pesan reflektif bagi seluruh aparatur sipil negaranya. Dalam apel pagi yang digelar di halaman kantor pada Senin (26/1), Widyaiswara BDK Surabaya, Widyanto, menekankan pentingnya reorientasi semangat kerja yang tidak hanya sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi mencapai tahap “Kerja Tuntas”.
Arahan tersebut merupakan pendalaman dari poin Usaha Maksimal dalam akronim “DUIT” (Dedikasi, Usaha Maksimal, Ikhlas, Takwa, dan Tawakal) yang beliau bagikan sebagai penguatan etos kerja di lingkungan BDK Surabaya.
Integritas Pegawai sebagai Fondasi Lembaga
Widyanto menegaskan bahwa marwah sebuah institusi pendidikan dan pelatihan tidaklah diukur dari kemegahan infrastruktur fisiknya, melainkan dari kualitas sumber daya manusia (SDM) yang menggerakkannya. Menurutnya, keberhasilan lembaga merupakan manifestasi nyata dari integritas setiap individu di dalamnya.
“Keberhasilan BDK Surabaya adalah keberhasilan kolektif kita semua. Namun, sukses besar itu mustahil tercapai tanpa dimulai dari usaha maksimal di level individu. Kedisiplinan hadir tepat waktu hingga ketulusan melayani peserta adalah bentuk terkecil dari usaha maksimal tersebut. Jika hal-hal dasar ini konsisten dilakukan, maka secara otomatis akan membentuk wajah lembaga yang profesional karena kita percaya BDK ini adalah tempat kita mengabdi,” papar Widyanto.
Esensi Kerja Tuntas dan Cerdas
Lebih lanjut, beliau menjabarkan bahwa usaha maksimal harus bermuara pada hasil kerja yang tuntas. Dalam kacamata profesionalisme, kerja tuntas berarti menyelesaikan tanggung jawab secara presisi dan tepat waktu, bukan sekadar pemenuhan formalitas administratif demi menggugurkan kewajiban.
“Kerja tuntas itu bukan hanya soal menyelesaikan tugas secara administratif. Kita butuh kerja cerdas; artinya semua dilaksanakan dengan perencanaan yang baik dan diakhiri dengan evaluasi. Orang yang dibutuhkan saat ini adalah mereka yang memiliki semangat kerja sungguh-sungguh, yang memastikan setiap tugas yang diamanahkan selesai dengan kualitas terbaik,” tegasnya.
Refleksi Spiritual dalam Pengabdian
Menutup amanatnya, Widyanto mengajak seluruh peserta apel untuk melakukan refleksi spiritual berdasarkan pesan dalam Al-Qur’an Surat An-Najm ayat 39, bahwa sesungguhnya manusia tidak akan memperoleh apa pun kecuali apa yang telah ia usahakan. Ia mendorong para pegawai untuk mengubah paradigma dari menuntut hak menjadi menawarkan kontribusi nyata bagi kemajuan bersama.
“Jangan selalu menanyakan apa yang didapat dari BDK, namun mari kita usahakan apa yang bisa kita berikan untuk kemajuan lembaga. Usaha yang maksimal membutuhkan pondasi spiritual yang kokoh. Mari kita memohon kekuatan agar senantiasa menjadi pribadi yang giat, tangguh, dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan amanah pengabdian ini,” pungkasnya.
Apel pagi yang berlangsung khidmat tersebut ditutup dengan doa bersama, menandai dimulainya rutinitas pelayanan di BDK Surabaya dengan semangat kerja yang lebih bermakna, terukur, dan berorientasi pada kemajuan bersama.
Penulis: Dewi